Luke Gromen

Mampukah Petrodollar Bertahan Dari Tingkat Suku Bunga Rendah?

Mampukah Petrodollar Bertahan Dari Tingkat Suku Bunga Rendah?

.

Dari manakah modal berasal pada hakekatnya?

Kebanyakan pembuat kebijakan AS meyakini bahwa modal berasal dari hutang yang dikeluarkan oleh Fed (atau Bank Sentral) dan bank-bank anggotanya; kebanyakan negara pengutang besar lainnya sependapat (yakni Jepang). Pada pihak lainnya, para pembuat kebijakan dari negara-negara pemberi hutang (kreditur) terbesar di dunia (dipimpin oleh Tiongkok) percaya bahwa modal riil adalah surplus yang dihasilkan dari produksi dan perdagangan (yang umumnya diakumulasikan dalam dolar AS dan pada hakekatnya menopang dolar AS sebagai mata uang cadangan [devisa] utama).

Selama 7-12 tahun terakhir ini kedua gagasan tentang modal yang bertolak belakang itu telah mulai memiliki efek yang nyata di dalam pasar-pasar aset global tertentu. Grafik di bawah ini menunjukkan emas, minyak, dan tingkat suku bunga Fed Funds, memberikan ilustrasi apa yang telah terjadi. Pada kebanyakan waktu selama tiga dekade dari 1973-2002, ketiga kelompok aset ini diperdagangkan secara erat bersama-sama; di dalam dekade terakhir, ketiga kelompok aset ini telah berpisah secara dramatis. Kami akan menjelaskan mengapa hal ini terjadi dan implikasi kritis yang diakibatkannya terhadap harga-harga minyak dan emas dalam USD.

Di bawah "kesepakatan Petrodollar", eksportir-eksportir minyak utama berjanji untuk hanya menetapkan harga minyak dalam USD dan tingkat suku bunga AS lalu diatur sedemikian rupa sehingga tiada bedanya buat eksportir minyak apakah mereka menyimpan cadangan devisa hasil ekspor minyak dalam Treasuries AS atau dalam emas (yang telah dipakai untuk transaksi minyak sebelum 1971 via USD yang didukung oleh emas dan sebelum itu, sterling yang didukung oleh emas).

Pada masa itu, AS merupakan baik negara perdagangan maupun penghasil minyak terbesar di dunia. Fed secara konsisten mengatur tingkat suku bunga Fed Funds untuk menjaga agar harga minyak tetap, bahkan sekalipun ketika Fed butuh tingkat suku bunga di level belasan (mid-teens) dan resesi berturut-turut di 1980-1982. Berhubung tingkat suku bunga Fed Funds AS diatur untuk menjaga daya beli terhadap minyak dari kreditur AS dan eksportir minyak, sistem tersebut terbukti bisa diterima buat kebanyakan negara.

Selama hampir tiga puluh tahun kesepakatan Petrodollar berlangsung dengan baik, namun mulai sekitar 2002-2004 kesepakatan ini mulai goyah disebabkan oleh kombinasi yang unik dari sejumlah faktor:

  1. Perekonomian AS telah kian 'difinansialisasi' dari 1981-2000 - persentase GDP AS yang berasal dari sektor-sektor seperti keuangan dan properti [disebut sektor FIRE, singkatan dari 'Financial, Insurance, and Real Estate'] telah meningkat secara signifikan. Ini disebabkan oleh tingkat suku bunga yang terus menurun mulai dari awal 1980-an ke depan dan inovasi-inovasi finansial seperti sekuritisasi pinjaman-pinjaman konsumen dan komersial. Ini berarti kredit murah menjadi lebih penting buat perekonomian AS dibandingkan minyak murah. Hal ini menyebabkan kenaikan yang signifikan di dalam hutang keseluruhan AS dan juga kenaikan dalam tingkat lapangan pekerjaan untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbul dari, melayani, dan mengelola produk-produk kredit di AS.
  2. Ekspansi ekonomi yang pesat dan pertumbuhan konsumsi minyak di Negara-Negara Sedang Berkembang (Emerging Markets), dibarengi dengan suplai yang mandek dari sumur-sumur minyak global, menyebabkan harga minyak naik. Negara-Negara Sedang Berkembang berada dalam proses menjadi konsumen minyak (dan mencapai porsi GDP global) paling besar untuk kali pertamanya.

Harga minyak mulai naik terus di 2002 dan 2003 sementara tingkat suku bunga Fed Funds tetap rendah untuk mengurangi dampak pengaruh buruk resesi/'Tech Bubble' AS di 2001. Akibatnya jumlah minyak yang bisa dibeli dari nilai nominal (face value) pada surat berharga pemerintah AS (Treasury bond) menurun dengan tajam.

Dalam grafik di bawah, anda bisa melihat bahwa di 2004, nilai nominal Treasuries AS jatuh ("broke support") ke nilai-nilai terendah yang baru dalam kurun 20-tahun versus minyak. Ambruknya dolar terhadap minyak, boleh jadi sangat mencederai para eksportir minyak (dan para kreditur AS seperti Tiongkok yang butuh impor minyak), yang menyimpan hasil ekspor sekian tahun ke AS dalam Treasuries AS.

Setelah mempertahankan kisaran di antara 55-60 barrel minyak per Treasury AS dari 1986-1999, nilai nominal $1000 dari Treasury AS dari mampu membeli 60 barrel minyak di 1999 turun menjadi kurang dari 30 di awal 2004.
[Catatan: Barrel minyak (disingkat bo - barrel of oil) merupakan satuan volume, yang mana 1 Barrel Minyak = 42 US gallon = 158,9873 liter.]

Ini mengancam sistem Petrodollar. Dikarenakan Treasuries AS ambruk terhadap harga minyak, para eksportir minyak mungkin pada akhirnya akan lebih baik membiarkan minyak tetap di dalam perut bumi. Ini memaksa pembuat kebijakan AS membuat keputusan penting:

  • Menaikkan tingkat suku bunga Fed Funds AS untuk memperkuat dolar relatif terhadap minyak, dengan demikian menyokong sistem Petrodollar, atau;
  • Membiarkan sistem Petrodollar jatuh berguguran.


AS memutuskan untuk memilih opsi pertama; di Juni 2004 Fed mulai menaikkan tingkat suku bunga secara perlahan. Ini buruk buat pasar properti AS, yang telah bergantung pada sejumlah produk KPR yang sudah didongkrak secara tinggi ("highly-leveraged") yang sering kali dikaitkan dengan tingkat suku bunga Fed Funds. Pasar properti mulai melemah dengan naiknya suku bunga, hanya dalam tempo 12 bulan saja dan dengan sebuah kenaikan tingkat suku bunga sebesar 4,25%, pasar properti mencapai puncaknya pada kuartal ketiga 2005 dan lalu mulai melemah secara drastis.

[Catatan: istilah leverage atau faktor pengungkit, biasanya dinyatakan dalam rasio sebesar 1 berbanding 50, 1:100, 1:250, dan rasio lain-lain. Sebagai ilustrasi saja, misalnya dalam margin trading forex, jika anda ingin trading sebesar $20.000, anda tak perlu menyediakan keseluruhan $20.000 tersebut tapi cukup menyediakan margin $200 (jika leverage 1:100) sebagai dana jaminan kepada broker anda. Contoh singkat ini juga sekaligus menjelaskan perbedaan antara margin dan leverage.]

Ini merupakan sebuah momen yang kritis namun sedikit sekali mendapatkan perhatian di dalam sejarah perekonomian AS. Perekonomian AS kini telah menjadi sedemikian 'terfinansialisasi' untuk sanggup menghadapi sesuatu kenaikan tingkat suku bunga yang signifikan.

Perekonomian AS berjalan pincang sepanjang 2006 dan permulaan 2007 hingga kerusakan kolateral akibat merosotnya harga properti mulai menyebar ke dalam sistem finansial yang lebih luas, mulanya diawali macetnya berbagai pinjaman substandar ('subprime loan defaults'), lalu menyebar masuk ke dalam pasar peminjaman yang lebih tradisional. Sistem perbankan global tidak butuh waktu lama untuk terkena akibatnya, bersama-sama dengan institusi lainnya yang bermain 'leverage' seperti AIG. Untuk mencegah bank-bank besar dan institusi-institusi finansial agar tidak jatuh bangkrut, Fed AS mula-mula memangkas tingkat suku bunga menjadi hampir nol persen dan lalu ekspansi neracanya ('balance sheet') menjadi lima kalinya dalam kurun waktu lima tahun ke level yang tak ada presedennya, sebesar $4,5 triliun. Walaupun langkah-langkah ini "menyelamatkan sistem tersebut" dari keruntuhan sistemik, namun ada harga yang tinggi yang mesti dibayar dari tindakan-tindakan ini:

Para pembuat kebijakan dan pakar AS mengartikan 2007-08 sebagai sebuah pembuktian bahwa AS tidak akan pernah gagal bayar (default) ke atas hutangnya disebabkan Fed senantiasa mampu mencetak uang untuk membayar kembali hutang-hutangnya yang didenominasikan dalam mata uang dolar AS.

Para eksportir minyak (dan para kreditur AS lainnya) mengambil pelajaran yang sama sekali berbeda dari krisis itu: Perekonomian AS kini telah sedemikian bergantung pada tingkat suku bunga rendah sehingga tidaklah mungkin bagi AS untuk mengelola suku bunganya untuk menjaga harga minyak agar tetap tanpa menggoncang sistem finansial global. Sistem Petrodollar, yang telah memungkinkan dolar AS untuk menggantikan posisi emas sebagai penopang atau fondasi perdagangan minyak dari 1973-2002, telah retak tak tersambungkan.

Dapat dipahami para pembuat kebijakan di berbagai negara kreditur tidaklah menganggap tindakan meminjamkan uang kepada AS dengan suku bunga nyaris nol persen untuk membeli barang-barang riil dan, paling penting, minyak dari para negara kreditur tersebut sebagai sesuatu yang amat menarik. Pengaturan semacam itu ibaratnya sama dengan seorang tuan tanah meminjamkan uang tunai kepada penyewanya dengan tingkat bunga 0% untuk membayar biaya sewanya.

Jadi, seiring dengan Fed mengekspansi neracanya sebesar 5,5 kali dari 2009 hingga 2013, negara-negara kreditur menempatkan sejumlah besar modalnya ke dalam berbagai aset riil termasuk emas dalam bentuk fisik. Mengapa emas dalam bentuk fisik dan bukannya emas dalam bentuk perdagangan berjangka (gold futures)?

Sebuah pelajaran lain yang diperoleh para negara kreditur di 2007-08 adalah bahwa semua pasar finansial AS yang 'leverage'-nya tinggi (seperti pasar 'gold futures') pada akhirnya merupakan sebuah kewajiban umum dan menjadi beban pemerintah AS, dan jika dianggap perlu, Fed AS akan membayarkannya kembali dalam bentuk tunai.

Setelah menyimpulkan bahwa para pembuat kebijakan AS tidak akan pernah sanggup lagi mengelola keterkaitan di antara tingkat suku bunga Fed Funds dengan harga minyak, para pembuat kebijakan di negara-negara kreditur mulai mengacu kembali pada aset pembayaran transaksi minyak yang telah dipakai berdekade-dekade terdahulu sebelum adanya Petrodollar, yakni emas dalam bentuk fisik. Penjaminan emas dalam bentuk fisik dihilangkan dari sistem perbankan logam mulia (bullion banking) milik Barat, mengakibatkan jatuhnya secara tajam harga-harga 'gold futures' di 2013.

Apa maknanya ini terhadap harga-harga emas dan minyak ke depan? Besar kemungkinannya harga kedua komoditi itu akan amat cenderung menguat (quite bullish). Emas bisa saja kembali ke sistem finansial global sebagai alat pembayaran, yang pada akhirnya bisa saja mengakibatkan harga emas secara fisik lebih tinggi secara signifikan disebabkan permintaan yang lebih tinggi. Harga minyak yang diimpor AS amat mungkin akan naik sekiranya dolar kehilangan monopolinya selama 41 tahun sebagai satu-satunya alat pembayaran dalam perdagangan minyak. Ini akan memberikan insentif ke atas peningkatan produksi minyak di Amerika Utara dan menguntungkan perusahaan-perusahaan yang terlibat di dalam sektor pelayanan energi domestik dan industri-industri manufakturing terkait.

Peluncuran perdagangan emas dalam bentuk fisik dalam mata uang yuan di Zona Perdagangan Bebas (FTZ) Shanghai direncanakan dimulai 29 September ini, diikuti kemudian peluncuran bursa perdagangan minyak dalam mata uang yuan (dan komoditi-komoditi lainnya) yang diperkirakan sebelum akhir tahun ini. Penetapan harga minyak dalam yuan dan kemampuan untuk membayar transaksi itu dalam emas secara fisik yang juga ditetapkan harganya dalam yuan mungkin akan terbukti menjadi sebuah titik balik penentuan untuk kembalinya emas fisik sebagai alat pembayaran perdagangan internasional.

[Catatan: di luar dugaan ternyata tanggal peluncuran perdagangan emas internasional di Bursa Perdagangan Emas Shanghai (SGE) dimajukan lebih awal 11 hari dari tanggal yang direncanakan semula, bursa internasionalnya telah dimulai tanggal 18 September 2014.  Simak di sini].

.

Senin, 15 September 2014

Diterjemahkan dari artikel yang ditulis oleh Luke Gromen, penulis newsletter 'Forest for the Trees', sebuah publikasi ekonomi yang ditujukan pada profesional jasa keuangan yang mendiskusikan pengembangan tema-tema makro-ekonomi.

.

dh - 2014.09.19

.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Berikut ini ada sebuah kisah anekdot yang sudah lama namun masih tetap menarik ceritanya dan amat relevan hingga hari ini:

.

Kisah Membeli Monyet

Di sebuah desa, datanglah seorang Tuan dari kota dengan penampilan yang perlente yang mengumumkan kepada para penghuni desa itu bahwa dia berniat membeli monyet dalam jumlah besar, seberapa banyak pun yang bisa disediakan, dengan harga 100 ribu per ekor. Para penghuni desa yang melihat ada banyak monyet di hutan bergegas pergi masuk hutan dan mulai menangkapi monyet-monyet itu.

Tuan itu sungguh bonafide, dia menepati kata-katanya dan membeli beribu-ribu ekor monyet dengan harga 100 ribu per ekornya. Ketika persediaan monyet di hutan mulai menurun secara drastis, sehingga kian sulit untuk menangkap monyet, para penghuni desa mulai menghentikan upaya penangkapan mereka, maka sang Tuan itu lalu mengumumkan bahwa sekarang dia akan membeli monyet pada harga 200 ribu per ekor. Para penghuni desa pun tergerak hatinya dan bersemangat kembali, dan mereka mulai giat menangkap monyet lagi. Persediaan monyet di hutan pun semakin menurun dan mereka akhirnya kembali ke kebun lagi.

Melihat hal itu, si Tuan kembali melontarkan harga penawaran yang baru, dia lalu menaikkan harga penawarannya menjadi 250 ribu per ekor. Karena persediaan monyet kini sedemikian langka maka diperlukan upaya lebih keras lagi daripada sebelumnya. Tak berapa lama Tuan itu mengumumkan bahwa sekarang ini dia akan membeli monyet pada harga 500 ribu per ekor. Tapi berhubung dia harus ke kota selama sepekan untuk urusan penting lainnya, maka asistennya yang akan diserahi tugas untuk mewakili kepentingannya.

Ketika Tuan itu sudah pergi, asisten itu lalu berkata kepada para penghuni desa: "Lihatlah, saya akan tunjukkan kepada kalian semua monyet-monyet yang ada di kandang besar yang telah dikumpulkan oleh Tuanku. Asisten itu pun membawa para penduduk desa ke kandang besar tak jauh dari desa itu, ada beribu-ribu monyet di dalamnya. Saya akan secara diam-diam menjual monyet-monyet itu kepada kalian semua seharga 350 ribu per ekor, dan ketika Tuan kembali, kalian bisa menjual kepadanya dengan harga 500 ribu per ekor."

Maka seluruh penduduk desa itu pun heboh, pikiran mereka dipenuhi oleh bayangan keuntungan besar nan mudah yang akan diraup untuk kali ke sekian, mereka pun berbondong-bondong balik ke rumah, mengumpulkan semua uang yang ada termasuk dari simpanan, bahkan hingga meminjam kepada sanak keluarga dan teman dekat. Hari-hari sesudahnya, terjadilah antrian panjang para penghuni desa itu untuk membeli monyet dengan seluruh tabungan yang ada pada mereka. Sesudah itu semua usai, pulanglah mereka dengan hati yang berbunga-bunga membayangkan akan segera untung besar. Sementara sesudahnya asisten itu pun pamit dari desa tersebut, katanya akan mengabari Tuannya di kota kalau penduduk desa sudah menyiapkan monyetnya. Hari demi hari ditunggu, namun tiada kabar yang datang. Baik jejak sang asisten maupun Tuan lenyap tak berbekas, yang tertinggal hanyalah monyet-monyet yang ada di mana-mana!

.

.

~~~~~~~~~~

“We can evade reality, but we can not evade the consequences of evading reality.” - Ayn Rand